kangkung-semendawaibarat.desa.id
“Terwujudnya Desa yang Mandiri, Sejahtera, dan Berdaya Saing melalui Pemberdayaan Masyarakat dan Pelestarian Nilai-Nilai Lokal.”
Desa Kangkung memiliki sejarah panjang yang berawal dari sebuah umbulan (kelompok permukiman awal) yang dikenal dengan nama Umbulan Durian Kangkung, yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-18. Umbulan ini terletak di kawasan tepian danau serta kebun durian yang pada masa itu masih merupakan wilayah hutan dan rawa.
Penamaan Kangkung memiliki nilai historis yang kuat dan lahir dari pengalaman masyarakat setempat. Pada masa awal permukiman, masyarakat sering mendengar auman binatang buas seperti harimau dan singa yang saling bersahutan di sekitar danau pada malam hari. Suara auman tersebut oleh masyarakat dianggap mirip dengan bunyi “kangkung”, sehingga nama tersebut kemudian melekat dan digunakan untuk menyebut umbulan tersebut.
Dalam perkembangannya, Umbulan Durian Kangkung pernah mengalami musibah besar berupa kematian penduduk dalam jumlah yang cukup banyak. Musibah tersebut diyakini berkaitan dengan keberadaan seekor binatang air yang dikenal oleh masyarakat sebagai belut putih, yang hidup di danau sekitar permukiman. Peristiwa ini menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat, sehingga kondisi sosial dan psikologis warga menjadi tidak aman dan tidak nyaman.
Akibat berbagai musibah dan gangguan tersebut, pada akhir abad ke-18 masyarakat Umbulan Durian Kangkung sepakat untuk berpindah tempat dengan menyeberangi sungai menuju wilayah daratan. Di lokasi baru tersebut terbentuk sebuah dusun yang diberi nama Dusun Kangkung, yang dipimpin oleh seorang tokoh adat dan budaya bernama Raden Matahun. Namun, di lokasi ini pun masyarakat kembali mengalami berbagai gangguan penyakit serta kondisi lingkungan yang kurang mendukung.
Pada awal abad ke-19, masyarakat Dusun Kangkung kembali melakukan perpindahan permukiman sejauh kurang lebih 1,5 kilometer ke arah selatan dari lokasi sebelumnya. Di lokasi ketiga inilah masyarakat mulai merasakan kenyamanan dan keamanan, sehingga wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi pusat permukiman yang bertahan hingga sekarang.
Seiring berjalannya waktu, Dusun Kangkung terus berkembang di bawah kepemimpinan para tokoh dan krio (kepala dusun) yang berperan besar dalam membuka lahan pertanian dan perkebunan, khususnya perkebunan karet yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Perkembangan wilayah, jumlah penduduk, serta sistem pemerintahan desa semakin tertata dari masa ke masa.
Pada tahun 1969, Dusun Kangkung secara resmi berubah status menjadi Desa Kangkung, seiring dengan penyesuaian sistem pemerintahan desa. Sejak saat itu, Desa Kangkung terus mengalami perkembangan di berbagai bidang, baik infrastruktur, sosial, ekonomi, maupun pemerintahan, hingga menjadi Desa Kangkung seperti yang dikenal saat ini.